Selasa, 27 Desember 2011

Peranan Objek Wisata terhadap Perkembangan Kepariwisataan DIY

Indonesia memiliki sumber daya pariwisata yang tidak kalah menariknya bila dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN. Pariwisata Indonesia menjadi pokok bahasan utama yang benar-benar harus diperhatikan dan dikembangkan dengan serius karena dapat dijadikan andalan dalam menghasilkan devisa atau pemasukan bagi negara dan pembangunan Indonesia, mengingat Indonesia memiliki segudang obyek wisata yang tersebar di seluruh pelosok negeri baik itu wisata sejarah, wisata budaya, wisata belanja maupun wisata alam. Indonesia menyuguhkan panorama alam yang begitu memukau dari Sabang sampai Merauke, kebudayaan yang sangat beragam, serta peniggalan sejarah yang melimpah. Namun demikian, perlu diiringi dengan upaya dan usaha yang lebih terarah, agar sumber daya tersebut mampu memiliki daya saing dalam menarik kunjungan wisatawan. Semua obyek wisata tersebut harus di kelola secara baik agar nantinya pariwisata Indonesia maju pesat dan Indonesia menjadi primadona turis mancanegara.

Yogyakarta sendiri sebagai salah satu provinsi terkecil di Indonesia mempunyai potensi yang sangat bagus dalam kepariwisataan. Yogyakarta memiliki banyak obyek wisata yang tentunya pantas untuk dikunjungi, mulai dari wisata alam seperti pantai parangtritis, wisata sejarah seperti Kraton, candi, wisata belanja seperti Pasar Beringharjo dan lain sebagainya. Objek-objek wisata tersebut tentunya berperan penting dalam proses perkembangan kepariwisataan Yogyakarta. Selain sebagai kota pendidikan dimana banyak pelajar dan mahasiswa yang menimba ilmu disini, Yogyakarta juga di kenal dengan kota budaya, kota pariwisata dan kota perjuangan yang pastinya menyedot banyak wisatawan untuk mampir berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Pemerintah daerah Yogyakarta harus memanfaatkan momentum tersebut agar kepariwisataan di Yogayakarta semakin maju berkembang pesat. Pemerintah juga harus bekerjasama dengan pihak swasta dalam  mengembangkan pariwisata.
Pariwisata dengan segala aspek kehidupan yang terkait di dalamnya akan menuntut konsekuensi dari terjadinya pertemuan dua budaya atau lebih yang berbeda, yaitu budaya para wisatawan dengan budaya masyarakat sekitar obyek wisata. Budaya-budaya yang berbeda dan saling bersentuhan itu akan membawa pengaruh yang menimbulkan dampak terhadap segala aspek kehidupan dalam masyarakat sekitar obyek wisata.
   A.  Objek Wisata di Daerah Yogyakarta

Saat ini Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan telah menarik banyak wisatawan, baik wisatawan lokal (domestik) maupun wisatawan mancanegara. Objek wisata di Yogyakarta merupakan kombinasi yang unik antara candi-candi ( candi Hindu atau Budha ) kuno, sejarah, tradisi, keindahan alam yang begitu mempesona dan kebudayaan Jawa yang unik serta khas. Objek-objek wisata tersebut antara lain:
1.    Objek wisata yang bersifat historis: Objek wisata sejarah yaitu tempat wisata yang memiliki nilai sejarah yang merupakan peninggalan zaman sejarah yang penting dan bernilai historis. Dalam hal ini bisa peninggalan masa awal sejarah maupun masa perjuangan hingga kontemporer. Di Yogyakarta sendiri banyak terdapat objek wisata sejarah ini, contohnya : Situs Kraton Ratu Boko, Candi Prambanan, Taman Sari, Monument Jogja Kembali (Monjali), Tugu, Monumen Serangan Umum Maret, Petilasan, penembahan senopati, benteng Vrederburg, dan lain sebagainya. Objek wisata tersebut telah di kenal oleh masyarakat luas.
2.      Objek wisata alam yaitu tempat pariwisata yang disediakan oleh alam berupa pemandangan alam, pegunungan, pantai, dan lain sebagainya yang basicnya berupa eksotis alam atau kondisi alam yang dapat dinikmati oleh wisatawan atau suatu daerah yang secara geografis mempunyai kelebihan yang jarang bisa ditemui di lain tempat sehingga secara umum menimbulkan daya tarik bagi orang untuk menikmati. Contohnya: Pantai Suing, Pantai Parangtritis, Pantai Glagah, Kaliurang, dan lain sebagainya.
3.    Tempat wisata religi yaitu tempat pariwisata yang berupa tempat ibadah atau yang berbau kepercayaan dan keyakinan. contohnya: Masjid Agung, kompleks makam raja-raja mataram ( Imogiri ) dan lain sebagainya.
4.    Objek wisata belanja: Objek wisata belanja banyak ditemukan di Yogyakarta dan yang sudah sangat terkenal yaitu kawasan Jalan Malioboro dan Pasar Beringharjo. Malioboro sendiri merupakan salah satu icon wisata kota Jogja. Ciri khas jalan ini ialah pedagang kaki lima yang menjajakan souvenir dan deretan pedagang lesehan pada malam hari. Jalan ini pun sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda.
5.    Tempat wisata kebudayaan merupakan tempat yang obyeknya berupa kesenian dan kebudayaan masyarakat sekitar, berbagai kreatifitas kegiatan masyarakatnya dipertunjukan untuk dapat dinikmati oleh wisatawan. Selain itu wisata budaya ini juga dapat berupa tempat yang memperlihatkan peninggalan budaya atau berbagai macam budaya masyarakat sekitar. Selain sebagai objek wisata sejarah, Candi Prambanan dan Situs Kraton Ratu Boko serta Kraton Yogyakarta juga merupakan contoh objek wisata kebudayaan atau budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
            Selain objek-objek wisata yang telah disebutkan diatas, masih banyak objek wisata yang ada di Yogyakarta antara lain kebun binatang Gembira Loka, Taman Pintar, Alun-alun Kidul, Alun-alun Utara dan lain sebagainya. Keanekaragaman upacara keagamaan dan budaya dari berbagai agama serta didukung oleh kreatifitas seni dan keramahtamahan masyarakat, membuat DIY mampu menciptakan produk-produk budaya dan pariwisata yang menjanjikan. Pada tahun 2010 sendiri sudah tedapat 91 desa wisata dengan 51 diantaranya yang layak dikunjungi sebagai objek wisata. Objek wisat-objek wisata tersebut sangat berperan penting dalam perkembangan kepariwisataan Daerah Istimewa Yogyakarta dan tentunya bagi pendapatan daerah.
Kondisi Objek Wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta
Objek wisata yang baik harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang baik pula seperti toilet dimana kebersihannya terjaga, dan fasilitas lainnya. Secara umum kondisi objek wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta terjaga dan terpelihara dengan baik. Fasilitas pendudukung juga tersedia, meskipun belumlah lengkap. Ini semua karena pemerintah daerah Yogyakarta serius menjaga dan mengembangkan seluruh potensi wisata yang ada, sehingga setiap tahun banyak wisatawan yang tertarik dan berkunjung ke Yogyakarta.
Tempat-tempat pariwisata di Yogyakarta telah mengalami perkembangan baik dari segi perubahan fisik, perubahan fungsi dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan karena perkembangan zaman yang semakin modern sehingga tempat-tempat pariwisata yang ada di Yogyakarta juga senantiasa berproses menjadi tempat wisata yang disesuaikan pada era atau zaman yang ada agar dapat tetap dinikmati dan menarik perhatian untuk mengunjunginya. Namun, perkembangan pariwisata di Yogyakarta perlu diarahkan pada pengembangan yang berorientasi pada pelestarian budaya. Hal ini dilakukan, agar budaya lokal tetap terjaga dan tidak tergeser oleh budaya yang lebih modern. Apabila pengembangan pariwisata yang memperhatikan kelestarian budaya dapat dilaksanakan maka dari waktu ke waktu Yogyakarta akan tetap mampu mempertahankan eksistensinya sebagai kota wisata dan tentunya wisatawan mancanegara semakin tertarik berkunjung ke Yogyakarta.
B.       Peranan Objek Wisata dalam Proses Perkembangan Kepariwisataan Daerah Istimewa Yogyakarta
Banyaknya objek wisata, membuat sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta sangat signifikan dan terbukti menjadi motor kegiatan perekonomian. Secara geografis sendiri, DIY diuntungkan oleh jarak antara lokasi obyek wisata yang terjangkau dan mudah ditempuh sehingga memudahkan wisatawan yang ingin berkunjung ke objek wisata yang disukai. Dalam hal ini pariwisata juga memberi efek pengganda (multiplier effect) yang nyata bagi sektor perdagangan disebabkan meningkatnya kunjungan wisatawan. Selain itu, penyerapan tenaga kerja dan sumbangan terhadap perekonomian daerah sangat signifikan.
Menurut Sukadyo ( Totok Sarsito, 2006: 67-71 ) sebagai suatu sistem, kepariwisataan mempunyai empat komponen penting, yaitu (1) daerah sasaran atau objek wisata, (2) transportasi wisata, (3) akomodasi wisata, (4) pemasaran atau promosi wisata. Dari keempat komponen tersebut, maka daerah sasaran atau objek wisatalah yang merupakan komponen terpenting dari seluruh aktivitas kepariwisataan, sebab pada dasarnya komponen inilah yang telah mendorong calon-calon wisatawan untuk mengunjungi suatu daerah atau tujuan tertentu. Dengan kata lain, semakin unik dan menarik daerah sasaran atau objek wisata akan semakin banyak calon-calon wisatawan yang akan berkunjung ke daerah tersebut, apalagi kalau ditunjang oleh adanya sistem transportasi, akomodasi, dan promosi yang baik dan memadai. Promosi yang dimaksudkan disini adalah segala macam informasi yang dibutuhkan oleh calon wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata seperti keadaan daerah sasaran atau objek wisata itu sendiri, cara-cara untuk mencapainya, akomodasi yang tersedia, dan lain sebagainya. Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa objek wisata sangatlah berperan dalam kepariwisataan. Tanpa adanya objek wisata pula kepariwisataan di Yogyakarta pastinya tidak akan berkembang seperti sekarang ini.
Objek wisata khususnya yang ada di Yogyakarta dalam dunia industri kapariwisataan yang dikelola secara komersial merupakan komoditi yang dijual kepada konsumen. Karena untuk mencapai, mengenali serta menikmati daerah sasaran atau objek wisata tersebut diperlukan prasrana dan sarana lain seperti transportasi, akomodasi, dan informasi-informasi, maka usaha-usaha untuk mengembangkan industri kepariwisataan atau dengan kata lain menjual komoditi yang berupa objek wisata seperti wisata alam, wisata sejarah, budaya, dan belanja kepada calon-calon wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, maka pemerintah harus memperhatikan ketiga komponen lainnya tersebut.
C.       Hambatan Kepariwisataan di Yogyakarta, Solusi, dan Dampak Perkembangan Kepariwisataaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Dalam setiap kegiatan pastinya menemukan hambatan, begitu juga dalam kepariwisataan Yogyakarta. Hambatan-hambatan tersebut antara lain:
1.      Terbatasnya anggaran untuk perawatan objek wisata khusunya objek wisata sejarah seperti Candi Prambanan, yang menelan banyak biaya.
2.      Meskipun secara umum kepariwisataan di Yogyakarta sudah cukup baik, namun di beberapa objek wisata masih terlihat memprihatinkan dimana keadaannya kurang terawat.
3.      Terdapat objek wisata seperti Situs Kraton Ratu Boko yang belum dikenal oleh masyarakat banyak.
4.      Ketatnya persaingan baik secara global, regional, maupun lokal.
Solusi atau cara mengatasi hambatan-hambatan tersebut:
  1. Pemerintah dan pihak-pihak terkait harus segera memperbaiki sarana dan prasarana obyek wisata tersebut, sehingga wisatawan merasa nyaman dan tidak segan untuk kembali berkunjung ke objek wisata tersebut
  2. Melakukan promosi-promosi wisata daerah Yogyakarta melalui lisan, audio visual, penyebaran brosur atau phamflet-phamflet sehingga menarik perhatian wisatawan
  3. Memunculkan ciri khas tersendiri untuk Yogyakarta karena biasanya wisatawan mancanegara lebih menyukai objek wisata yang mempertahankan keasliannya
  4. Mendatangkan insvestor yang bisa membantu dan mendukung perkembangan wisata itu sendiri.
Dampak Perkembangan Kepariwisataan Daerah Istimewa Yogyakarta
Meskipun tidak bisa diklaim sebagai penyebab tunggal bagi mundurnya atau merosotnya kebudayaan daerah, kepariwisataan memang diakui telah memberikan andil dalam merusak kebudayaan daerah. Dari ketiga macam wujud kebudayaan, yaitu: wujud ideal, wujud kelakuan, dan wujud fisik, maka kebudayaan dalam wujud fisiklah yang paling mudah mengalami kerusakan atau perubahan, baru disusul kemudian oleh kebudayaaan dalam wujud kelakuan dan pada akhirnya kebudayaan dalam wujud ideal.
Kerusakan atau kemunduran kebudayaan dalam ketiga wujud tersebut secara umum memang disebabkan oleh semakin banyaknya orang-orang asing ( dalam maupun luar negeri ) yang berkunjung ke daerah tersebut dalam hal ini Yogyakarta. Semakin banyaknya wisatawan yang datang di suatu daerah objek wisata akan menyebabkan timbulnya masalah yang semakin kompleks, yang dampak negatifnya akan berpengaruh terhadap kebudayaan yang ada di daerah tersebut.
Secara umum dampak negatif akibat perkembangan kepariwisataan Yogyakarta yaitu:
  1. Dengan banyaknya wisatawan yang datang mengunjungi tempat-tempat bersejarah, monumen-monumen budaya, dan lain sebagainya menimbulkan kerusakan yang akibatnya penduduk setempat tidak dapat lagi menikmatinya.
  2. Dengan adanya pariwisata, banyak wisatawan yang datang ke Yogyakarta yang membawa budaya modern seperti gaya hidup konsumerisme, hedonisme, dan lain sebagainya yang mempengaruhi perilaku masyarakat Yogyakarta dan menyebabkan merosotnya kebudayaan daerah serta menyebabkan timbulnya deviasi sosial.
  3. Adanya praktek mencari keuntungan semata tanpa memperhatikan kekhasan Yogyakarta sebagai kota berbudaya tinggi
  4. Lahan-lahan hijau berkurang karena adanya pembangunan-pembangunan disekitar wilayah wisata, seperti : hotel, rumah makan, tempat rekreasi dan lain sebagainya, sehingga penghijauan dan taman kota semakin berkurang.
  5. Berkurangnya lahan untuk taman kota akibat pembangunan, maka semakin banyaknya polusi baik polusi udara, tanah, dan air.
Cara untuk mencegah dan meminimalisir pengaruh negatif yang ditimbulkan akibat perkembangan kepariwisataan di Yogyakarta ialah dengan mengoptimalkan peran kearifan lokal dalam menyaring dan mencegah dampak negatif yang ditimbulkan, terkait dengan prostitusi harus selalu diadakan razia serta penertiban PSK, agar objek wisata steril dengan kegiatan terselubung semacam itu. Selain itu aparat setempat dan masyarakat harus meningkatkan keamanan agar kenyamanan wisatawan terjamin.
            Terlepas dari dampak negatif akibat perkembangan kepariwisataan Daerah Istimewa Yogyakarta, pastinya pariwisata juga memberikan dampak positif bagi pemerintah dan masyarakat Yogyakarta pada umumnya. Dampak positif dari perkembangan pariwisata di Yogyakarta, antara lain:
  1. Meningkatnya pendapatan daerah dari sektor pariwisata
  2. Meningkatnya taraf hidup /perekonomian masyarakat Yogyakarta. Hal ini dikarenakan banyak dari mereka yang memanfaatkan pariwisata Yogyakarta atau Jogja untuk membuka peluang wirausaha dengan berjualan serta menyediakan tempat penginapan
  3. Dapat mengenalkan makanan khas, kubudayaan, potensi wisata daerah Yogyakarta dan ciri khas lainnya yang ada di kota Yogyakarta kepada dunia.
  4. Membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar untuk bekerja sebagai guide, pedagang-pedagang yang berjualan disekitar obyek wisata dan lain sebagainya.
  5. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat sekitarnya


DAFTAR PUSTAKA
Pitana, I Gede dan Gayatri, Putu G. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Andi.

Totok, Sarsito. 2006. Pengembangan Kebudayaan Daerah di Era Kemajuan di Bidang Kepariwisataan. Jurnal Dinamika Kebudayaan. VIII ( 2 ): 67-71.

Yoeti, Oka A. 1996. Pemasaran Pariwisata Terpadu. Bandung: Angkasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar