Senin, 19 Desember 2011

Agama Humanitas Auguste Comte

Desakan untuk mendirikan agama positif terutama karena mengingat runtuhnya tatanan sosial tradisional yang sebelumnya sudah memuncak dalam Revolusi Perancis, dan Comte khawatir kalau mengarah ke anarki. Sementara humanitas merupakan objek utama pemujaan dalam agama baru itu, konsep humanitas selalu kabur untuk orang yang mau mengenalnya ( khususnya masyarakat biasa ). Supaya konsep ini dapat ditangkap, wanita atau kewanitaan akan disembah sebagai perwujudan kehidupan perasaan dan sebagai pernyataan yang paling lenkap dari cinta dan altruisme. Berulangkali Comte mengemukakan bahwa perasaan wanita dan altruisme lebih tinggi  daripada intelek dan egoisme pria menurut nilai sosialnya.

Comte dikesankan oleh kebudayaan abad pertengahan. Bukan tahap evolusi pemikiran manusia yang mengesankan dia masa itu, melainkan pengintegrasian yang ditonjolkan antara nilai-nilai rohani dengan nilai-nilai duniawi. Misalnya lembaga keluarga tidak semata-mata dianggap sebagai lembaga sekuler saja, tetapi dianggap suci dan sakral juga. Terddorong oleh keyakinan bahwa hati manusia merupakan daya ang terutama, ia melucuti angkatan bersenjata dari cita sakralnya, dan sebagai gantinya ia memberi status sakral kepada kaum wanita. Ia meningkatkan status sosial mereka dan meluhurkan peranan mereka dalam rumah tangga. Ia menentang perceraian. Bunda Maria, ibu Yesus al Masih, dihormatinya. Melalui hormat kepada Bunda Maria ia menyatakan hormatnya kepada seluruh ibu.
Dalam kehidupannya sendiri, nampaknya Clothilde de Vaux menggantikan Perawan Maria serta menjadi simbol perwujudan “wanita ideal”. Dalam istilah Freud, reaksi emosional Comte sendiri terhadap hubungan fisik yang tak terpenuhi dengan Clothilde de Vaux merupakans sublimasi terhadap suatu tatanan yang lebih tinggi. Hubungan cinta mereka adalah hubungan cinta murni tanpa hubungan fisik (menyebabkan Comte sangat frustrasi); sesudah kematian istrinya itu, hubungan rohaniah ini diubah Comte menjadi penyembahan terhadap roh wanita yang dia ketemukan sedemikian indah dan sempurna terjelma dalam tubuh Clothilde de Vaux. Sebetulnya Comte menjadi sedemikian terpikat oleh pandangannya mengenai masyarakat positivis dimasa depan hingga dia malah membayangkan suatu kemungkinan pria dan wanita akan  berkembang kesuatu titik dimana hubungan seks tidak diperlukan lagi dan “kelahiran akan muncul begitu saja dari wanita.”
Comte menarik kesimpulan, bahwa pengintegrasian kembali masyarakat atas dasar prinsip-psrinsip positivisme hanya mungkin dilaksanakan melalui agama gaya baru, yaitu agama sekuler dengan lambangnya, upacaranya, hari-hari raya, dan orang-orang “Kudus”-nya. Hanya agama yang akan mampu menyemangati baik akal-budi maupun perasaan dan kemauan. Oleh karena itulah, Comte dalam masa tuanya mendirikan agama baru itu. Yang disembah sebagai Yang Maha Tinggi bukan Tuhan, melainkan humanitas atau kemanusiaan. Kita harus mencintai humanitas. Dengan humanitas tidak dimaksudkan untuk semua orang, tidak termasuk bagi yang jahat dan tidak becus, melainkan orang-orang terbaik yang pernah dihasilkan sejarah dan masih hidup melalui karya dan pengaruh mereka. Menurut Comte, cinta inilah yang akan memulihkan keseimbangan dan keintegrasian baik dalam diri pribadi individu maupun dalam masyarakat. Cinta ini akan melahirkan pemerintahan sipil, menjinakkan, dan mengendalikan tiap – tiap kekuasaan duniawi.

Referensi
Banyu Bening. 2010. August Comte dan Aliran Positivisme.http://www.elfilany.com/2011/03/auguste-comte-dan-aliran-positivisme. html diakses pada tanggal 19 September 2011
Johnson, Doyle Paul. 1988. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid 1. Jakarta: PT Gramedia.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2008. Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Bantul: Kreasi Wacana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar